Setuju kah kalian jika..

November 16, 2008

Awal yang indah bila di indahkan tentu saja indah. Namanya adalah Indah, lahir di Parepare, sulawesi Selatan, 22 tahun yang lalu. Terakhir ketemu denganya adalah pada waktu kenaikan kelas 2 SMA soalnya orang tuanya pindah ke Makassar dan dia juga ikut pindah. Segitu pentingnya kah Indah bagi aku sehingga secara detail aku menjelaskan tentang Indah. Jawabannya adalah tidak, karena bukan Indah yang mau aku bahas dalam tulisan ini.

Siang ini aku ke THM, bukan untuk mencari sesuatu tapi emang mencari sesuatu yang berguna bagi aku, tentu saja. Setelah capek keliling akhirnya aku berhenti disebuah toko. Toko yang menjual berbagai kebutuhan manusia mulai dari kepala sampe mata kaki, bahkan toko ini menjual sesuatu yang berharga yang jika tidak ada isinya tidak bisa dipakai transaksi, itu adalah dompet dan itu juga tujuan aku ke THM, mau beli dompet. Secara otomatis, dompet yang aku pakai sekarang tidak lama lagi pensiun. Karena umurnya yang sudah tua dan kusam, aku putuskan untuk menggantinya dengan yang baru dan tentunya lebih fresh dan berharap dengan adanya dompet baru ini bisa mendatangkan rejeki lebih banyak lagi, tentu saja dengan niat dan usaha yang aku lakukan, yaitu adalah kerja dengan sebaik-baiknya dan tidak merugikan orang lain, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)

Aku parkir motor tepat didepan toko, helm aku simpan diatas jok motor. Sebelum masuk toko kembali aku melirik motor yang membawa aku ketoko ini, waduh gak penting de kayaknya bahas masalah motor, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)

Masuk ke toko, pegawai itu, tidak pake kacamata, seorang cewek, menyapa aku. “siang mas, nyari apa?”, “siang juga mba.. lagi nyari something ne, liat2 dulu ya..”, silahkan katanya.

Setelah puas mengelilingi isi toko, dari sana dan kesini, kembali lagi dan kesana pas ditengah toko itu ada sebuah rak kaca yang bisa diputar, entah apa namanya. Rak itu tersusun dengan empat bagian. Paling atas ada tas laptop, ketiga ada dompet, kedua ada dompet, dan rak yang paling bawah ada dompet juga. Mata aku langsung berbinar dan bercahaya, tangan aku gatal, tangan kiri mengambil dompet dan melihat isinya, sedangka tangan yang satu garuk-garuk kepala yang artinya mengekspresikan kegelisahan milih dompet yang sesuai dengan kebutuhan aku.

Setelah melihat dompet itu, lalu lihat dompet lain lagi. Begitu seterusnya sampe-sampe pegawai yang tidak pake kaca mata itu geleng2 kepala lihat tingkah aku.

Beberapa menit kemudian..
“mba.. dompet ini harganya berapa?” itu aku bertanya ma pegawai yang tidak pake kaca mata yang secara jelas harganya sudah ada tertempel dibagian dalam dompet.
“yang ini ya mas..?”
“Ya iyalah mba, masa nanya harga sayur (sambil ketawa)”
“(dia juga ketawa) harganya yang itu mas..”
“mana..?”
“itu mas yang tertempel”
“mana se mba?”
dia mulai kesal.
“aduh mas, itu.. (sambil nunjuk harganya)”
“Ohh.. bilang dunk mba dari tadi”
“aku kan uda bilang dari tadi mas..”
“hehehe iya mba, coly..”
Dia nunjukin muka memelas, mungkin dia mau bilang “capek deh (sambil tangan diangkat ke dahi)” tapi entah kenapa dia gak lakukan? Huamm aku malas mikirin!
“mba..”
“iya mas..?”
“boleh..”
“apa mas..?”
“hmm.. boleh gak mba?”
“boleh apa mas?”
“boleh.. aku milih dompet yang aku pegang?”
“aduh mas ini ada-ada aja, ngomong itu aja susah banget”
Kali ini dengan jelas dia ngomong “capek deh (sambil tangan diangkat ke dahi)”. Padahal aku gak pernah nyuruh mba itu bilang “capek deh”, sumpah sodara-sodara!

Setelah itu.. setelah itu apa? Hmm.. setelah itu dengan langkah tegap dan gagah berani aku berjalan menuju kasir. Kali ini, pegawai yang aku hadapi beda. Perlu strategi dan langkah baru untuk menghadapinya. Selain beda karena pagawai yang satu ini emang beda, tapi dipikiran aku dia bukan pegawai yang kerja ditoko ini, melainkan pemilik toko segaligus pemegang saham beserta seluruh isi dagang yang ada di toko ini. Dia pake kacamata, kulitnya putih bersih, badannya tegap gempita, agak berumur tapi tetap kelihatan asri. Meskipun dia memiliki kelebihan dibanding dengan kulit aku yang sawomatang tapi aku gak bakalan tertarik, soalnya dia adalah cowok. Aku perhatikan sekali lagi, sepertinya dia keturunan cina. Pantas aja kulitnya putih, mana ada cina kulitnya hitam, kecuali cina keturunan afrika, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)

Karena dia adalah keturunan cina dan meskipun aku gak tahu namanya tapi akal sehat aku gak bakalan kehabisan ide. Aku putuskan untuk memanggilnya koko.

“ko..” aku buka celana, eh maksudnya buka pembicaraan.
“ya mas..”
Dia mau aja dipanggil ko, kurang ko. Seharusnya aku manggil dia koko. Waduh mala bahas nama!
“dompet ini harganya berapa ya..?” kembali aku tanya harga dompet ini.
“uek.. halganya sekian lupiah mas..”
“mahal banget ko, turunin lagi dunk”
“oke, uek tulunin jadi sekian lupiah”
“turunnya kok sepuluh ribu aja ko, lagi dunk..”
“gak bisa uek, halganya emang segitu”
“okelah kalo gitu uek, aku bayar sekarang ato nanti uek?”
Dia ketawa, padahal gak ada yang lucu dalam transaksi ini.
“ya bayal sekalang lah uek”
Akhirnya aku juga ikut ketawa, entah kenapa?!

Transaksi telah selesai, kembalian atas kelebihan pembayaran-pun telah aku terima yaitu sekecil dua ratus empat puluh ribu rupiah. Tadi aku bayar sebesar lima ratus ribu rupiah, koko nya sempat bilang bayarnya kegedean tapi aku juga bilang kalo lebih kembalikan dunk ko! Itu, aku emang sengaja bayar lebih. Selama berada ditoko ini, hal yang gak sengaja aku lakukan adalah ketika aku bayar ke koko dengan uang lebih, loh bingung aku? Sama.. aku juga bingung! Hehe..

Senang.. puas.. puas.. tak sobhek-sobhek! Lho kok malah niru gaya bicara Tukul? Hari ini aku senang banget karena telah memiliki dompet baru, yailah kayak anak gadis aja. Tapi beneran seneng, seneng karena ada dompet baru. Kali ini aku yang bilang “capek deh”.

Sekarang aku mau bilang, indahnya dunia bila diisi oleh hal-hal konyol yag tidak pernah diduga. Tapi harus diketahui,hal konyol ini tidak terlepas dari kebiasaan orang tersebut, bikin kesel namun tidak menyakitkan. Mala membuat orang senang dan ketawa. Aku sendiri kadang mikir, begitu banyak hal konyol yang aku lakukan selama ini, namun semua itu.. sumpah dia datang tanpa diundang. Dia hadir dengan sekejab mata dengan pikiran dan logika yang kencang. Ini kembali dari watak dan kebiasaan orang tersebut. Hiduplah dengan senang dan tenang dan jangan dibuat pusing, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)

Tugas apa yang sering anda kerjakan?

November 11, 2008

Kerja sampe malam adalah dikerjain. Kerja mengerjai dan mengejar aku. Bukan senin-jumat, tapi ini adalah malam senin. Seperti malam lain yang telah melintas, malam ini juga sama dengan minggu kemarin, malam senin juga, itu artinya minggu malam. Kenapa begitu? Karena adalah karena kerja mengerjai aku.

Seharusnya sekarang aku dirumah lagi duduk, ngobrol ma Tri ato Akbar, dengerin musik, tapi apalah dikata, kalian pasti uda tau sekarang aku dimana. yup, sekarang aku dikantor lagi lembur. Mengerjakan tugas rutin yang harus selesai malam ini dan besok tugas rutin ini harus dikirim. Apakah tugas rutin yang harus aku selesaikan sehingga membuat aku dikantor, malam ini sendirian dengan ditemani cahaya lampu redup ditambah sebotol aqua yang bila aku haus tinggal diminum? Gak usah sungkam atau malu untuk menanyakan tugas rutin apa yang aku kerjakan sekarang, karena ini bersifat gratis dan aku gak bakalan mungut biaya untuk bilang.

Sebenarnya tugas rutin ini aku kerjakan dengan penuh semangat, dengan antusias dan sedikit konsentrasi. Tugas rutin ini sama sekali tidak membebani aku karena tugas ini mencerminkan kepribadian aku. Seharusnya bila memang harus, tugas ini aku kerjakan setiap hari, minimal setengah jam tiap hari biar cepat selesai. Namun, kerjaan tetap yang membuat aku tidak cukup waktu untuk membuat rugas rutin ini. Ini bisa aku jadikan alasan karena Cuma itu alasan yang ada dikepala aku sekarang.

Oke dari pada panjang lebar, aku langsung saja. Berhubung aku juga takut sendirian dikantor ya langsung saja. Aku tahu, tulisan ini bolak-balik, tapi aku mau kalian tahu ini adalah bagian pembelajaran yang aku tekuni. Bukan bermaksud untuk menjadi tenar, tapi ini aku jadikan rutinitas untuk bisa seperti penulis pada umumnya. Ups..! aku kecoplosan sodara2.. iya, aku pengen jadi penulis. Walaupun gaya penulisan aku masih kocak dan susah untuk diartikan, tapi kalian harus tahu, inilah gaya penulisan aku. Tidak pernah terlintas dipikiran aku untuk mengikuti cara, gaya penulisan, atau karakter penulis itu. Siapa dia? Dia adalah penulis yang sekarang bukunya tersebar di toko-toko gramedia yang ada di Indonesia. Aku gak mau nyebutin namanya karena belum minta ijin, seperti hidup harus didasari dengan sifat dan etika, dan menulis bagi aku juga sama. Terlebih dulu harus minta ijin dengan penulis tersebut, setuju!

Secara gak langsung kalian sudah tahu tugas rutin yang aku kerjakan sekarang. Sengaja aku tulis karena tulisan ini aku mau publikasikan. Kenapa? Apa keuntungan yang bisa aku peroleh dengan adanya tulisan ini? Jawabannya bervariasi. Salah satu jawaban yang aku suka yaitu, tulisan ini aku jadikan motivasi. Tanpa motivasi aku gak bakalan bisa jadi penulis, setuju!

Jadi penulis bukan impian aku, tapi tujuan aku. Impian aku adalah jadi orang yang berguna bagi sesama, tentunya sesama manusia. Adapun tujuan aku menulis karena aku suka menulis. Sekali lagi aku bilang, gak ada maksud untuk menjadi tenar tapi aku pengen mengembangkan diri sendiri apakah aku bisa jadi penulis atau tidak yang sedarinya aku memang suka menulis.

Banyak cerita dari aku yang terbuang begitu saja, begitu banyak hal yang aku lewatin namun detilnya secara pasti aku lupa. Dengan menulis cerita-cerita unik aku bisa menggambarkan cerita-cerita itu, tentunya cerita-cerita yang banyak orang cerita.

Oke, mungkin ini dulu pelajaran yang bisa aku tangkap, dilain waktu dan berdoa ada kesempatan aku belajar nulis lagi. Mohon dukungannya yah..

Apa ini

Oktober 17, 2008

Hal yang seharusnya terjadi terjadilah, dan itulah adanya. Dan hal yang seharusnya tidak terjadi janganlah terjadi, itupun adanya. Apa yang aku lakukan sekarang kamu tidak tahu, apa yang kamu lakukan sekarang akupun tidak tahu. Siapa yang tahu, Presiden aja nggak bakalan tahu. Itu adalah bagian dari hidup yang penuh belok2, liku2, dan tikungan. Apa ini? Ini adalah tulisan yang nggak jelas maknanya.

Dua hari ini terjadi dan nggak terjadi, apa itu? Kamu tidak tahu karena aku tahu. Walaupun kamu tahu tapi itu kamu tahu bila aku bilang. Apakah aku harus bilang? Terang2an kamu tidak tahu, gelap2an kamu juga tidak tahu. Apa ini? Ini adalah tulisan yang nggak jelas maknanya.

Sekarang kamu tahu maksudnya apa? Inti dari kehidupan adalah mencari dan terus mencari sesuatu. Sesuatu itu ada dimana dan berapa nilai uang yang harus dibayar, aku tidak tahu dan kamu pun tidak tahu bahkan Presiden pun tidak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi, kamu bakalan tidak tahu. Apa ini? Ini adalah tulisan yang nggak jelas maknanya.

Kata demi kata aku rangkai, paragraph demi paragraph aku susun, tulisan demi tulisan aku apain? Terget demi target aku usahakan, habis itu aku apain? Apa ini? Ini adalah tulisan yang nggak jelas maknanya.

Satu hal yang perlu kamu tahu, Ini adalah tulisan yang nggak jelas maknanya.

Gpp

Oktober 15, 2008

“Apa ada dibalik semua itu?” itu saya bertanya sama Cuplis
Cuplis bingung dan gak segera menjawab pertanyaan aku, mungkin karena pertanyaan aku yang kurang jelas ato emang dia yang bodoh, entahlah.
“Cuplis apa ada..? jawab dunk”
“Iya.. iya..”
“Iya apa Plis, apa ada?”
Cuplis makin bingung.

Hari itu adalah siang, panas, tapi yang jadi pertanyaan? Kenapa hari itu tidak hujan? Karena kalo hujan, sekarang aku tidak bisa bertanya sama cuplis “apa ada”, itu atinya aku gak bakalan keluar rumah dan itu artinya aku dirumah lagi nonton, tentunya nonton langit2 kamar.

“Iya ada apa, maksudnya apa?” Cuplis nanya.
“Bukan ada apa Plis.. Tapi apa ada”
Cuplis bengong.
“Gini lo Plis.. apa ada dibalik semua itu?”
Cuplis makin bingung dan meninggalkan aku.
“Plis..” aku manggil Cuplis
“Apa..?”
“Jangan tinggalkan, kumohoon..”
Dia ketawa, dan ketawa sejadi2nya, aku juga ketawa.

Sebenarnya aku juga bingung dengan pertanyaan yang aku tanyakan ke Cuplis, itu karena aku memang pengen ngerjain dia, pengen buat dia pusing dengan pertanyaan yang membingungkan, bahkan juga membingungkan bagi yang baca tulisan ini, karena itu tujuan aku.

Aku mau jalan, Cuplis tidak aku ajak karena dia telah meninggalkan aku, aku kecewa dan patah hati sama dia, awas kamu Plis!!

Aku keparkiran depan RedBox, kaget dan cemas karena sepeda aku gak ada. Kemana sepeda aku, batinku dalam hati. Aku menarik nafas dalam2 dan sekuat tenaga aku hembuskan lewat mulut, lalu aku ulang lagi sampe dua kali. Aku tutup mata.. namun sepeda aku tetap gak ada diparkiran, itu karena aku tutup mata. Tapi setelah aku buka mata sepeda itu telah berubah menjadi motor, menakjubkan dan sungguh luar biasa. Baru ingat dan sadar ternyata aku gak bawa sepeda.

Perlahan2 aku dekati sepeda motor itu yang sudah menemani aku selama dua tahun lebih, lebih dekat dan sekarang aku dimana? sekarang aku uda diatasnya. Dengan suka cita dan rasa yang tidak bisa aku lukiskan serta asa yang ada2 saja yang sukar untuk dijelaskan emang sulit aku ungkapkan. Entah perasaan apa ini, yang jelas waktu itu.. waktu duduk diatas motor, dengan memandangi sekeliling sambil mengucapkan basmalah aku.. aku.. tak berdaya melihat bensin motor yang sudah mau habis. Ternyata aku marah, sewot, merajuk, gelisah, dan apa lagi? Perasaan gak enak ini datang walaupun gak pernah aku undang, sumpah gak pernah aku undang. Dia datang tanpa salam dan langsung menusuk dada, jantung aku berdetak kencang, nafas aku tidak teratur. Ada apa ini? Apa kata dunia bila nanti ditengah jalan motor tiba2 mati karena kehabisan bensin. Teryata dunia berkata “Kasian deh elo”

Hal yang gak pernah aku duga itu terjadi. Ditengah jalan setelah melewati mobil dan dua motor serta seorang ibu2 yang lagi jalan sama anaknya, apa yang terjadi? Gpp, aku cuma lewat dan terus jalan menuju kerumah kediaman Tri, itu berarti rumah aku juga.

Sampe dirumah juga gpp, emang kenapa kalo aku uda dirumah, gpp kan teman2. Sekarang siapa yang mau marah jika aku kekamar dan langsung tidur, sekarang siapa yang mau marah jika aku tidur bukan dikamar sendiri melainkan dikamar Akbar, sekarang siapa yang mau marah jika aku menyalakan tivi dan nonton dvd, sekarang siapa yang mau marah jika aku menyalakan rokok, sekarang siapa yang mau marah jika aku ketawa karena film dvd itu, sekarang siapa yang mau marah jika aku minum, dan sekarang siapa yang mau marah jika aku sudahi saja tulisan ini!!!

Hujan

Oktober 12, 2008

Tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri. Suasana kota Tarakan tampak ramai. Mulai dari pagi, siang bahkan sampe malam. Gak biasanya jalan kota Tarakan macet. Paling macet tentu saja dijantung kota. Saya juga tidak tau pasti jantung kota Tarakan berada dimana. Tapi jika dilihat sepertinya disekitar THM, entah apa kepanjangan THM. THM sendiri berada disudut dekat lampu merah, diseberang jalan depan THM tampak sebuah bangunan megah dengan arsitektur seni modern yang berbentuk oval dinamai GTM (Grand Tarakan Mall).

Pagi ini, pagi sekali sekitar pukul enam saya mengantar Cuplis pulang. Cuplis adalah teman saya sejak pertemuan pertama kali di RedBox (tempat billiar) dua tahun lalu. Dia hebat maen Billiard. Saya lebih sering manggil Cuplis dengan gondrong. Soalnya rambutnya panjang, yang jika diliat dari belakang seperti cewek, tapi dari depan aduhai.. ya mirip Cuplis, emang siapa lagi.

Tarakan mendung. Tak satupun Bintang menampakkan sinarnya karena ditutupi oleh awan hitam yang tebal. Setelah mengulang novel ketiga karya Andrea Hirata yang sudah berapa kali saya baca mulai dari Novel pertamanya Laskar Pelangi dan disusul Sang Pemimpi habis saya baca malam ini sekitar pukul 20:35. Dari kemarin hujan, sedia payung sebelum hujan, makanya malam ini saya mau keluar bawa mobil. Sekarang adalah malam minggu. Keluar rumah saya langsung ke RedBox. Didepan Redbox saya berhenti. Kebetulan RedBox berada dipinggir jalan, agak kedalam dengan parkir tepat didepan RedBox sendiri. Tampak Cuplis lagi berdiri sendirian, seakan mau nunggu angkot, entah mau kemana. Saya klakson dua kali dengan tangan melambai keluar dari kaca mobil, artinya lagi manggil Cuplis. Ternyata Cuplis ngerti dengan kode yang saya kasih, habis siapa lagi yang saya panggil kalo bukan dia soalnya didepan saya Cuma ada Cuplis. Sekarang Cuplis berdiri disamping mobil sambil kepalanya mendongak kedalam mobil dan melihat saya.

“Mo kemana Drong?”
“Rumah cewekku”
“Pergi sekarang k? ato kita jalan dulu”
“Jalan dulu lah.. tunggu sebantar..”
Cuplis ke RedBox, beberapa detik kemudian dia langsung masuk kemobil.
“Hmm..Jalan kemana ya Drong?”
“Terserah.. keliling aja yuk”

Saya lalu nyalain mobil dan seketika itu saya sama Cuplis jalan2 mengelilingi Kota Tarakan. Diperjalanan..

“Kerumah cewekmu jam berapa Drong, mau kuantar k?”
“Ahh.. Cuma basa-basi kok”
“Halah.. Hehehe..”
Cuplis juga ketawa.
“Uda makan Drong?”
“Udah.. kamu?”
“Masih kenyang”

Beruntung saya bawa mobil keluar. diluar orang2 berlarian ingin berteduh. Hujannya deras banget.

“Drong.. ke Metro yuk”
“Ayok..”

Sampe di Metro saya langsung masuk sama Cuplis. Semua meja telah diisi oleh pemain. Saya kekasir dan pesan meja.

“Mba.. Pesan meja dunk..”
“Penuh mas..”
“Iya uda tau penuh, makanya mau pesan”
Mba nya ketawa, mungkin dipikirannya benar juga.
“Oke mas, tapi antrian keempat ya?”
“Gak papa kok mba, santai aja!”

Belum sampe diantrian keempat saya bisa main Billiard. Itulah gunanya banyak teman. Didepan saya ada Hendra yang lagi nyodok bola. Tanpa dipanggil saya langsung duduk didekatnya. Bola disusun kembali, Hendra nawarin maen Billiard, tentu saja saya tidak menolaknya karena emang itu tujuan saya. Main sekali game ternyata waktunya uda habis. Saya bilang ke Hendra..

“Dra.. waktunya ditambah aja, biar saya yang bayar. Didepan saya masih ada tiga yang antri. Mau yah mau..”
Ternayata Hendra mau ngerti.
“Oke..”

Saya langsung panggil Cuplis main dengan saya. Hendra duduk di tampet lain tapi masih bisa saya liat. Sejam kemudian saya berhenti main. Bukan karena capek tapi karena mau jalan lagi. Stik saya letakkan ditempatnya, baru mau kekasir Adi datang menghampiri saya. Ternyata Adi juga ikut antri, mau main Billiard. Adi baru datang, akhirnya saya bilang kekasir saya lanjut dan uang meja saya kasih ke Adi. Sebelum saya meniggalkan Metro saya perhatikan semua orang main Billiard, Aihh bosan, semuanya cowok se!

Keluar dari Metro saya langsung ke RedBox. RedBox juga penuh, yang mau main Billiard sama seperti Metro harus antri. Saya suruh Cuplis pesan meja. Habis pesan meja saya mengajak Cuplis lagi, kali ini saya ke D’Boss Poll. Hujan makin deras, jalanan hampir tidak terlihat karena saking lebatnya, ditambah dengan angin kencang, entah angin apa namanya. Di D’Boss Pool juga sama, mejanya penuh.

Sebenarnya.. sebanarnya.. ngapain saya keliling tempat Billiard di Tarakan, kayak gak ada kerjaan aja. Iya itu lah jawabannya. Saya sama Cuplis emang gak ada kerjaan, rencananya habis ke D’Boss Pool mau lanjut ke Nine Ball n seterusnya. Jangan sangka, Cuplis juga pembawaannya agak gila meskipun dia masih kalah gila sama saya, hehe. Kasian Cuplis ikut2 saya, uda ketularan virus gila nomor sebelas, maaf ya Plis, peace.

Niat ke Nine Ball saya urungkan soalnya uda kemalaman, jam sebelas lewat. Di D’Boss Poll saya maen sama Cuplis sejam mpe jam dua belas lewat. Lagi2 diluar masih hujan, Aihh gak lama tenggelam kita ini Drong, itu saya bilang ke Cuplis.

Diperjalanan pulang, Cuplis minta diantar kerumahnya. Rumahnya jauh, karena saya sendiri dirumah makanya saya ajak Cuplis nginap dirumah. Apa yag terjadi, ternyata Cuplis tidak menolak ajakan saya setelah saya kasih dia rokok sebatang sebagai tanda jadi. Sampe di rumah Cuplis langsung tidur, dia tidur di kamar saya, sedangkan saya tidur di kamar Akbar.

Paginya.. sekitar pukul enam saya ngantar Cuplis pulang. Teman2, Tarakan masih hujan lo, dari semalam. Saya kasih Cuplis uang seratus ribu sebelum turun dari mobil, makasih katanya.

Cuplis temanku, Cuplis sahabatku, Cuplis sodaraku. Kamu tau, saya bangga sama kamu. Semalam kamu bilang di mobil, kamu uda lega soalnya uda bisa belikan baju lebaran ketiga adekmu, meskipun kamu sendiri tidak punya baju baru. Kamu ngasih 750 ribu untuk dibagi tiga. Saya tau kerja kamu, saya tau kamu tinggal dimana, saya tau asalmu dari mana, saya tau kamu di Tarakan untuk apa, yang katamu di Tarakan enak, dari pada dikampung sendiri gak mungkin kamu bisa belikan adek2mu baju baru. Saya menyadari itu, karena itu juga kenapa saya bisa di Tarakan, demi sesuap nasi.

Dulu kamu pernah bilang, kalo ada yang berani ganggu saya, jangan malu ngomong sama kamu karena kamu akan segera bantu saya, siapa orang yang berani ganggu saya kamu akan.. kamu akan selesaikan dengan otot2mu yang kekar itu. Saya tau kamu setia kawan, tapi tidak semua masalah harus diselesaikan dengan otot, masih banyak cara lain selain menggunakan otot, tapi makasih kuucapkan untuk kesetia kawanan kamu.

Ohh Cuplis temanku, sabar ya.. meskipun kerja kamu berat, emang berat soalnya tiap minggu itupun kalo ada kapal kamu angkat barang orang itu dan kamu dikasih uang, tapi tidak sedikitpun kamu mengeluh. Panas2 kamu angkat itu barang, bahkan hujan kamu tetap angkat, saya malu pada diriku sendiri yang kerjanya cuma duduk dikantor, banyak keluhannya lagi. Meskipun kerja kamu kasar, tapi kamu masih memikirkan ketiga adek2mu yang kamu sendiri tidak memikirkan dirimu.

Cuplis temanku.. bekerjalah, bekerjalah dengan halal sesuai agama. Saya temanmu, sahabatmu, sodaramu siap membantumu kapanpun kamu butuh, tapi bantuan saya tentu saja tidak pake otot.