Awal yang indah bila di indahkan tentu saja indah. Namanya adalah Indah, lahir di Parepare, sulawesi Selatan, 22 tahun yang lalu. Terakhir ketemu denganya adalah pada waktu kenaikan kelas 2 SMA soalnya orang tuanya pindah ke Makassar dan dia juga ikut pindah. Segitu pentingnya kah Indah bagi aku sehingga secara detail aku menjelaskan tentang Indah. Jawabannya adalah tidak, karena bukan Indah yang mau aku bahas dalam tulisan ini.
Siang ini aku ke THM, bukan untuk mencari sesuatu tapi emang mencari sesuatu yang berguna bagi aku, tentu saja. Setelah capek keliling akhirnya aku berhenti disebuah toko. Toko yang menjual berbagai kebutuhan manusia mulai dari kepala sampe mata kaki, bahkan toko ini menjual sesuatu yang berharga yang jika tidak ada isinya tidak bisa dipakai transaksi, itu adalah dompet dan itu juga tujuan aku ke THM, mau beli dompet. Secara otomatis, dompet yang aku pakai sekarang tidak lama lagi pensiun. Karena umurnya yang sudah tua dan kusam, aku putuskan untuk menggantinya dengan yang baru dan tentunya lebih fresh dan berharap dengan adanya dompet baru ini bisa mendatangkan rejeki lebih banyak lagi, tentu saja dengan niat dan usaha yang aku lakukan, yaitu adalah kerja dengan sebaik-baiknya dan tidak merugikan orang lain, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)
Aku parkir motor tepat didepan toko, helm aku simpan diatas jok motor. Sebelum masuk toko kembali aku melirik motor yang membawa aku ketoko ini, waduh gak penting de kayaknya bahas masalah motor, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)
Masuk ke toko, pegawai itu, tidak pake kacamata, seorang cewek, menyapa aku. “siang mas, nyari apa?”, “siang juga mba.. lagi nyari something ne, liat2 dulu ya..”, silahkan katanya.
Setelah puas mengelilingi isi toko, dari sana dan kesini, kembali lagi dan kesana pas ditengah toko itu ada sebuah rak kaca yang bisa diputar, entah apa namanya. Rak itu tersusun dengan empat bagian. Paling atas ada tas laptop, ketiga ada dompet, kedua ada dompet, dan rak yang paling bawah ada dompet juga. Mata aku langsung berbinar dan bercahaya, tangan aku gatal, tangan kiri mengambil dompet dan melihat isinya, sedangka tangan yang satu garuk-garuk kepala yang artinya mengekspresikan kegelisahan milih dompet yang sesuai dengan kebutuhan aku.
Setelah melihat dompet itu, lalu lihat dompet lain lagi. Begitu seterusnya sampe-sampe pegawai yang tidak pake kaca mata itu geleng2 kepala lihat tingkah aku.
Beberapa menit kemudian..
“mba.. dompet ini harganya berapa?” itu aku bertanya ma pegawai yang tidak pake kaca mata yang secara jelas harganya sudah ada tertempel dibagian dalam dompet.
“yang ini ya mas..?”
“Ya iyalah mba, masa nanya harga sayur (sambil ketawa)”
“(dia juga ketawa) harganya yang itu mas..”
“mana..?”
“itu mas yang tertempel”
“mana se mba?”
dia mulai kesal.
“aduh mas, itu.. (sambil nunjuk harganya)”
“Ohh.. bilang dunk mba dari tadi”
“aku kan uda bilang dari tadi mas..”
“hehehe iya mba, coly..”
Dia nunjukin muka memelas, mungkin dia mau bilang “capek deh (sambil tangan diangkat ke dahi)” tapi entah kenapa dia gak lakukan? Huamm aku malas mikirin!
“mba..”
“iya mas..?”
“boleh..”
“apa mas..?”
“hmm.. boleh gak mba?”
“boleh apa mas?”
“boleh.. aku milih dompet yang aku pegang?”
“aduh mas ini ada-ada aja, ngomong itu aja susah banget”
Kali ini dengan jelas dia ngomong “capek deh (sambil tangan diangkat ke dahi)”. Padahal aku gak pernah nyuruh mba itu bilang “capek deh”, sumpah sodara-sodara!
Setelah itu.. setelah itu apa? Hmm.. setelah itu dengan langkah tegap dan gagah berani aku berjalan menuju kasir. Kali ini, pegawai yang aku hadapi beda. Perlu strategi dan langkah baru untuk menghadapinya. Selain beda karena pagawai yang satu ini emang beda, tapi dipikiran aku dia bukan pegawai yang kerja ditoko ini, melainkan pemilik toko segaligus pemegang saham beserta seluruh isi dagang yang ada di toko ini. Dia pake kacamata, kulitnya putih bersih, badannya tegap gempita, agak berumur tapi tetap kelihatan asri. Meskipun dia memiliki kelebihan dibanding dengan kulit aku yang sawomatang tapi aku gak bakalan tertarik, soalnya dia adalah cowok. Aku perhatikan sekali lagi, sepertinya dia keturunan cina. Pantas aja kulitnya putih, mana ada cina kulitnya hitam, kecuali cina keturunan afrika, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)
Karena dia adalah keturunan cina dan meskipun aku gak tahu namanya tapi akal sehat aku gak bakalan kehabisan ide. Aku putuskan untuk memanggilnya koko.
“ko..” aku buka celana, eh maksudnya buka pembicaraan.
“ya mas..”
Dia mau aja dipanggil ko, kurang ko. Seharusnya aku manggil dia koko. Waduh mala bahas nama!
“dompet ini harganya berapa ya..?” kembali aku tanya harga dompet ini.
“uek.. halganya sekian lupiah mas..”
“mahal banget ko, turunin lagi dunk”
“oke, uek tulunin jadi sekian lupiah”
“turunnya kok sepuluh ribu aja ko, lagi dunk..”
“gak bisa uek, halganya emang segitu”
“okelah kalo gitu uek, aku bayar sekarang ato nanti uek?”
Dia ketawa, padahal gak ada yang lucu dalam transaksi ini.
“ya bayal sekalang lah uek”
Akhirnya aku juga ikut ketawa, entah kenapa?!
Transaksi telah selesai, kembalian atas kelebihan pembayaran-pun telah aku terima yaitu sekecil dua ratus empat puluh ribu rupiah. Tadi aku bayar sebesar lima ratus ribu rupiah, koko nya sempat bilang bayarnya kegedean tapi aku juga bilang kalo lebih kembalikan dunk ko! Itu, aku emang sengaja bayar lebih. Selama berada ditoko ini, hal yang gak sengaja aku lakukan adalah ketika aku bayar ke koko dengan uang lebih, loh bingung aku? Sama.. aku juga bingung! Hehe..
Senang.. puas.. puas.. tak sobhek-sobhek! Lho kok malah niru gaya bicara Tukul? Hari ini aku senang banget karena telah memiliki dompet baru, yailah kayak anak gadis aja. Tapi beneran seneng, seneng karena ada dompet baru. Kali ini aku yang bilang “capek deh”.
Sekarang aku mau bilang, indahnya dunia bila diisi oleh hal-hal konyol yag tidak pernah diduga. Tapi harus diketahui,hal konyol ini tidak terlepas dari kebiasaan orang tersebut, bikin kesel namun tidak menyakitkan. Mala membuat orang senang dan ketawa. Aku sendiri kadang mikir, begitu banyak hal konyol yang aku lakukan selama ini, namun semua itu.. sumpah dia datang tanpa diundang. Dia hadir dengan sekejab mata dengan pikiran dan logika yang kencang. Ini kembali dari watak dan kebiasaan orang tersebut. Hiduplah dengan senang dan tenang dan jangan dibuat pusing, setuju!
Setuju.. (siapa tu yang ngomong)